Yes…
jadi Mama bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bergaul ─ bahkan nge-genk.
Dua orang teman saya buktinya. Yang satu adalah Mahmud (alias Mamah Muda!),
sedangkan yang satu Mama beranak 3 yang semuanya sudah bersekolah. Hah?? Kok
bisa?
Begini
ceritanya…
Gaul seru bareng ibu-ibu sekolahan
Teman
saya ini, namanya Rini. Anaknya
tiga. Yang paling besar kelas 4 SD, yang kedua kelas 1 SD, dan si bungsu TK
kecil. Tahun lalu sebelum si bungsu masuk TK, Mama Rini tak pernah punya waktu
untuk kumpul bersama ibu-ibu lain di sekolah. Tapi, sejak si bungsu masuk TK,
otomatis ia punya banyak waktu untuk ‘me time’ di pagi hari setelah
anak-anaknya masuk kelas. Inilah awal kedekatannya dengan ibu-ibu sekolahan
anaknya.
Awalnya,
Mama Rini hanya dekat dengan para Mama yang anaknya sama-sama di TK kecil. Tapi
lama-kelamaan, ia juga dekat dengan Mama lain yang anaknya sudah SD (ketiga
anaknya sekolah di TK dan SD yang berada di satu gedung sekolahan). Diawali
dari ngobrol bareng, jajan mi ayam di dekat sekolahan, dan menawarkan barang
dagangan (hihihi… khas ibu-ibu banget, ya!), genk Mama Rini sekarang punya
jadwal tetap kegiatan apa saja yang akan dilakukan di hari itu. Hari Senin,
misalnya, setelah anak-anak masuk kelas pukul 07.30, Mama Rini dan teman-teman
genk-nya (yang jumlahnya 20 orang!) akan menuju ke sebuah sanggar senam dekat
sekolah untuk olahraga bareng. “Lumayan, kita jadi punya jadwal olahraga rutin.
Kalau tidak begini, kapan lagi kita punya waktu untuk olahraga, kan?” kata Mama
Rini. Hari selanjutnya, Selasa, adalah saatnya pengajian. Ibu-ibu ini minta
ijin khusus pada pihak sekolah supaya pengajian ibu-ibu ini bisa diadakan di
sekolah, dengan mengundang seorang guru ngaji, supaya semua ibu-ibu yang sedang
menunggu anaknya juga bisa ikutan.
Lalu,
apa kegiatan di hari lainnya? “Bervariasi,” jawab Mama Rini. “Paling sering, sih,
kita akan menuju ke rumah makan soto Kudus favorit untuk sarapan. Sekali jalan,
bisa 10 orang sekaligus. Sambil makan, kita biasanya ngobrol soal apapun, mulai
dari masalah anak, keluarga, hingga kegiatan di sekolah. Misalnya, ada salah
satu Mama yang curhat kalau anaknya tidak cocok dengan sistem belajar
matematika yang diterapkan di sekolah. Kemudian, kita saling kasih pendapat
atau masukan untuk dia. Atau, kalau kebetulan sekolah akan mengadakan kegiatan,
seperti family gathering, secara
otomatis kita akan jadi ‘seksi repot’ yang mengatur semuanya supaya kegiatan
berlangsung lancar,” jelasnya.
Jadi,
kalau ada yang menganggap kehidupan ibu rumah tangga itu membosankan, hanya
berkisar sekolahan, pasar, dan rumah…, ternyata salah besar, tuh. Keseruan
hidup selalu bisa kita dapatkan dari mana saja, kok, asalkan kita memang
menikmati peran yang kita jalankan. Yaa seperti Mama Rini yang mengaku hidupnya
semakin berwarna dan berisi setelah mengenal ibu-ibu sekolahan anaknya.
Beberapa, bahkan menjadi sahabat barunya, yang selalu terbuka dititipi
anak-anaknya ketika ia mendadak tak bisa menjemput mereka sepulang sekolah.
![]() |
| gambar dari zaazu.com |
Teman alumni jadi keluarga
Santi,
teman saya yang lain, adalah salah satu yang menikah muda. Ia menikah ketika
sedang mengerjakan skripsi di sebuah universitas di Bogor. Semasa kuliah, Mama
Santi ini punya genk yang terdiri dari 11 orang. Lulus kuliah, punya anak,
kemudian bekerja, Mama Santi tetap dekat dengan genk kuliahannya. Hingga suatu
hari, tugas kantor mengharuskan ia mengikuti sebuah short course di Belanda. Bersama sang Papanya, anaknya pun terpaksa
‘mengungsi’ sementara di rumah mertuanya selama dua bulan.
Meski
begitu, Mama Santi tetap nggak tenang. Pasalnya, si Papa kerja di Jakarta,
hanya punya waktu malam hari dan weekend untuk
menemani anaknya. Otomatis, sehari-hari putrinya itu hanya bersama pengasuh dan
ayah mertua, karena ibu mertuanya sudah tiada. Apa hubungannya sama teman-teman
genk-nya? Ada! Beberapa teman genk yang masih tinggal di Bogor (ada 7 orang dan
semuanya belum menikah!), langsung bersumpah akan menjadi penjaga untuk anaknya
sementara Mama Santi kuliah di luar negeri.
“Seminggu
beberapa kali, teman-teman saya, baik yang laki-laki maupun perempuan, datang
ke rumah mertua saya sekedar bertemu anak saya dan mengajaknya bermain.
Beberapa teman perempuan kadang malah mengajak pengasuh anak saya belanja
keperluan anak di supermarket, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga diapers.
Terus terang, bantuan mereka bikin saya merasa tenang selama di Belanda. Mereka
jadi seperti mata kedua buat saya,” kata Mama Santi.
Bukannya
tak percaya pada si Papa, lho, ya… tapi Mama Santi ini tipe yang menganut paham
bahwa dua kepala jauh lebih baik daripada satu. Si Papa yang sibuk dan kerjanya
jauh ini pun jadi lebih tenang dan lega kan, dengan adanya bala bantuan ini…
Mama
sendiri, ada nggak yang punya genk seru seperti cerita di atas?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar