Ketika kewaspadaan dan kehati-hatian saja tidak cukup, kita sebagai orang tua juga harus
membekali anak dengan ‘ilmu’ mempertahankan diri.
Bukan..., bukan ilmu bela diri. Lagipula, susah juga mengharapkan anak yang baru berumur 5 tahun bisa mengalahkan orang jahat dengan ilmu bela diri yang baru dipelajarinya setahun belakangan...
Bukan pula seperangkat gadget atau teknologi canggih yang bisa memonitor keberadaan anak 24 jam penuh, seperti CCTV atau GPS tracker. Karena hal-hal seperti itu, tetap bisa 'diakali' oleh mereka yang benar-benar berniat jahat pada anak kita.
Kenapa Anak Jadi Korban Kejahatan?
Sebelumnya, kita harus tahu dulu kenapa anak-anak yang polos dan tak berdosa bisa menjadi sasaran kejahatan. Rasanya, sulit membayangkan, ya, ada seseorang
yang begitu tega menyakiti anak-anak. Tetapi justru sifat dasar anak-anak yang
pada umumnya tidak memiliki prasangka buruk, mudah dibujuk atau dimanipulasi,
serta masih memiliki banyak keterbatasan dalam hal kekuatan fisik, logika berpikir,
dan keberanian, yang menjadi ‘pendorong’ seseorang untuk berbuat jahat kepada
anak. Dan menurut para ahli, kalau diteliti lebih lanjut, ternyata ada berbagai
motif yang bisa melatarbelakangi terjadinya kejahatan pada anak, terutama
penculikan. Misalnya saja motif ekonomi, perebutan hak asuh anak, kelainan perilaku,
balas dendam, dan sebagainya.
Siapa Pelakunya?
Pelaku kejahatan pada anak bisa berasal dari anggota keluarga
atau orang yang dikenal ─ ini biasanya terjadi pada kasus perceraian atau perebutan hak
asuh, atau dendam ─ serta orang lain yang non keluarga. Latar belakang motif
penculikan biasanya masalah ekonomi (minta tebusan), untuk mengancam atau
menakut-nakuti orang tua, perdagangan anak, kejahatan seksual pada anak, serta
gangguan jiwa si pelaku.
Jangan katakan kepada anak untuk tidak berbicara kepada orang yang
tak dikenal!
Lho, kenapa? Karena jika terjadi sesuatu pada anak di tempat umum,
bukankah anak harus meminta bantuan pada satpam, pak polisi, ibu-ibu lainnya, yang semuanya tak dikenal olehnya? Jadi, anak harus tahu caranya meminta tolong kepada orang lain yang juga tidak
dikenalinya. Justru yang harus Anda ajarkan adalah bahwa anak boleh bicara
dengan orang asing ketika:
- Sedang bersama dengan orang tua
- Orang tua memperkenalkan anak kepada orang lain
- Orang tua menyebutkan bahwa orang itu adalah kenalan mama atau papa
- Membayar belanjaan kepada kasir atau pedagang, atau ketika hendak minta tolong kepada waiter di restoran.
Lalu, bagaimana jika anak sedang tak
bersama orang tua? Apakah ia tetap boleh bicara kepada orang tak dikenal? Kita harus mengajarkan kepada anak bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang boleh
ia ajak bicara ketika sedang tidak bersama orang tua:
- Jika anak masih balita, ia boleh berbicara pada ibu atau bapak guru (misal guru baru di preschool, atau guru di tempat kursus barunya), ataupun ibu-ibu yang sedang membawa anak kecil.
- Jika anak berusia di atas 4 tahun, selain dua orang di atas, ia juga boleh berbicara kepada satpam atau polisi (jangan lupa tunjukkan kepada anak seperti apa seragam khas satpam atau polisi!), life guard (jika di pantai atau kolam renang), serta orang yang menurut anak bisa dipercaya.
Ajak anak latihan!
Supaya anak tidak lupa, kita
bisa mengajak anak bermain simulasi untuk menolak ajakan orang-orang tak
dikenal ini. Misal, kita berpura-pura menjadi orang tak dikenal yang mengajak
anak, kemudian anak berlatih cara menolak. Atau, ajari anak cara menemukan
petugas keamanan atau ibu-ibu dengan anak ketika sedang jalan-jalan di mal, misalnya
dengan minta anak berhitung sambil menunjuk orang yang dimaksud. Dengan begitu,
anak tak hanya tahu teori, tetapi mampu mempraktikkannya.
Ingat!
Sesibuk apapun kita, usahakan untuk tetap melakukan
pengawasan dan komunikasi dengan anak. Misalnya, dengan menelpon anak atau
menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak mengenai kejadian-kejadian yang
dialaminya sepanjang hari itu. Hal ini diperlukan agar kita bisa mengantisipasi
kemungkinan akan adanya orang yang berniat jahat pada anak.
Ingat juga:
Jangan katakan pada anak untuk menghindari orang yang
berpenampilan kumuh, kotor, ataupun compang-camping. Faktanya banyak penculik anak
adalah orang yang terlihat ramah dan baik hati kepada anak. Betul, nggak?
Note: Artikel ini pernah dipublikasikan oleh saya di Parenting Indonesia tahun 2015 (dengan sedikit editan, tentunya!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar