Minggu, 24 Januari 2016

Inilah yang Harus Diketahui Anak Ketika Menghadapi Orang Asing




Ketika kewaspadaan dan kehati-hatian saja tidak cukup, kita sebagai orang tua juga harus membekali anak dengan ‘ilmu’ mempertahankan diri. 

Bukan..., bukan ilmu bela diri. Lagipula, susah juga mengharapkan anak yang baru berumur 5 tahun bisa mengalahkan orang jahat dengan ilmu bela diri yang baru dipelajarinya setahun belakangan...  

Bukan pula seperangkat gadget atau teknologi canggih yang bisa memonitor keberadaan anak 24 jam penuh, seperti CCTV atau GPS tracker.  Karena hal-hal seperti itu, tetap bisa 'diakali' oleh mereka yang benar-benar berniat jahat pada anak kita. 

Ilmu yang satu ini, meski barangkali tak efektif 100%, tapi setidaknya bisa meminimalkan terjadinya risiko tindak kejahatan pada anak. Apa itu?

Kenapa Anak Jadi Korban Kejahatan?

Sebelumnya, kita harus tahu dulu kenapa anak-anak yang polos dan tak berdosa bisa menjadi sasaran kejahatan. Rasanya, sulit membayangkan, ya, ada seseorang yang begitu tega menyakiti anak-anak. Tetapi justru sifat dasar anak-anak yang pada umumnya tidak memiliki prasangka buruk, mudah dibujuk atau dimanipulasi, serta masih memiliki banyak keterbatasan dalam hal kekuatan fisik, logika berpikir, dan keberanian, yang menjadi ‘pendorong’ seseorang untuk berbuat jahat kepada anak. Dan menurut para ahli, kalau diteliti lebih lanjut, ternyata ada berbagai motif yang bisa melatarbelakangi terjadinya kejahatan pada anak, terutama penculikan. Misalnya saja motif ekonomi, perebutan hak asuh anak, kelainan perilaku, balas dendam, dan sebagainya.

Siapa Pelakunya?
Pelaku kejahatan pada anak bisa berasal dari anggota keluarga atau orang yang dikenal ─ ini biasanya terjadi pada kasus perceraian atau perebutan hak asuh, atau dendam ─  serta orang lain yang non keluarga. Latar belakang motif penculikan biasanya masalah ekonomi (minta tebusan), untuk mengancam atau menakut-nakuti orang tua, perdagangan anak, kejahatan seksual pada anak, serta gangguan jiwa si pelaku.

Jangan katakan kepada anak untuk tidak berbicara kepada orang yang tak dikenal!
Lho, kenapa? Karena jika terjadi sesuatu pada anak di tempat umum, bukankah anak harus meminta bantuan pada satpam, pak polisi, ibu-ibu lainnya, yang semuanya tak dikenal olehnya? Jadi, anak harus tahu caranya meminta tolong kepada orang lain yang juga tidak dikenalinya. Justru yang harus Anda ajarkan adalah bahwa anak boleh bicara dengan orang asing ketika:
  • Sedang bersama dengan orang tua
  • Orang tua memperkenalkan anak kepada orang lain
  • Orang tua menyebutkan bahwa orang itu adalah kenalan mama atau papa
  • Membayar belanjaan kepada kasir atau pedagang, atau ketika hendak minta tolong kepada waiter di restoran.
Lalu, bagaimana jika anak sedang tak bersama orang tua? Apakah ia tetap boleh bicara kepada orang tak dikenal? Kita harus mengajarkan kepada anak bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang boleh ia ajak bicara ketika sedang tidak bersama orang tua:
  • Jika anak masih balita, ia boleh berbicara pada ibu atau bapak guru (misal guru baru di preschool, atau guru di tempat kursus barunya), ataupun ibu-ibu yang sedang membawa anak kecil.
  • Jika anak berusia di atas 4 tahun, selain dua orang di atas, ia juga boleh berbicara kepada satpam atau polisi (jangan lupa tunjukkan kepada anak seperti apa seragam khas satpam atau polisi!), life guard (jika di pantai atau kolam renang), serta orang yang menurut anak bisa dipercaya.
Ajak anak latihan!
Supaya anak tidak lupa, kita bisa mengajak anak bermain simulasi untuk menolak ajakan orang-orang tak dikenal ini. Misal, kita berpura-pura menjadi orang tak dikenal yang mengajak anak, kemudian anak berlatih cara menolak. Atau, ajari anak cara menemukan petugas keamanan atau ibu-ibu dengan anak ketika sedang jalan-jalan di mal, misalnya dengan minta anak berhitung sambil menunjuk orang yang dimaksud. Dengan begitu, anak tak hanya tahu teori, tetapi mampu mempraktikkannya.

Ingat!
Sesibuk apapun kita, usahakan untuk tetap melakukan pengawasan dan komunikasi dengan anak. Misalnya, dengan menelpon anak atau menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak mengenai kejadian-kejadian yang dialaminya sepanjang hari itu. Hal ini diperlukan agar kita bisa mengantisipasi kemungkinan akan adanya orang yang berniat jahat pada anak.

Ingat juga:
Jangan katakan pada anak untuk menghindari orang yang berpenampilan kumuh, kotor, ataupun compang-camping. Faktanya banyak penculik anak adalah orang yang terlihat ramah dan baik hati kepada anak. Betul, nggak?

Note: Artikel ini pernah dipublikasikan oleh saya di Parenting Indonesia tahun 2015 (dengan sedikit editan, tentunya!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar