Minggu, 24 Januari 2016

Jadilah Teman Yang Baik… (bagi orang tua anak dengan autisme)



Well… setelah menjadi seorang Mama dari 2 anak (Alhamdulillah!), dunia saya bertambah luas. Ilmu parenting saya semakin bertambah dari hari ke hari. Pertemanan saya pun melebar: Orang tua teman sekolah anak, dokter dan para suster di RS langganan anak, guru serta kepala sekolah super baik hati di sekolah pilihan anak saya, serta ibu-ibu lain yang saya jumpai di ruang praktik dokter. Sungguh, kalau ada yang bilang bahwa pertemanan kita semakin menciut ketika menjadi Mama, itu semua D U S TA….

Dari sekian banyak teman baru ini, beragam ilmu dan wawasan yang bisa saya ambil dari mereka. Salah satu yang paling berkesan bagi saya (dan mudah-mudahan sesuai dengan tema lomba #4Tahun KEB ini) datang dari orang tua teman TK anak saya, yang ternyata si orang tua itu adalah sahabatnya teman saya di kantor (duh.., panjang ya). Intinya, teman TK anak saya ini memiliki kebutuhan khusus. Orang awam menyebutnya sebagai anak autis. Tapi menurut sang ibu, anaknya mengalami salah satu spektrum autisme yang nama ilmiahnya saya lupa, dengan gejala tak mampu berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Contohnya nih, kalau anaknya disuruh ambil pisang ke dapur oleh ibunya, ia akan beranjak dan berjalan ke dapur. Tapi baru beberapa langkah, ia malah menuju ke kamar dan mengambil sisir.

Tidak,,,, saya tidak apriori terhadap si ibu dan anak. Meski kadang dalam pentas seni anak ini kerap ‘membangkang’ atau ‘membelot’ dengan bergaya beda di atas panggung, saya tetap menganggapnya bahwa anak itu baik-baik saja. Tapi, saya mulai memberi perhatian lebih pada cerita si ibu ini ketika mendapat kabar dari teman kantor saya (yang adalah sahabat si ibu ini sejak SMA), bahwa si anak ternyata mendapat diskriminasi di tempat lesnya. Si anak menjadi satu-satunya anak yang tidak diikutsertakan dalam lomba oleh tempat lesnya. Alasannya? Absurd, yang pasti!

Sejak itu, entah kenapa, label anak berkebutuhan khusus mulai sering terdengar oleh saya (atau terbaca!). Sepertinya, sedang ada semacam tren anak-anak mengalami gangguan perilaku yang kemudian dengan mudahnya ‘dicap’ sebagai anak autis. Dan, sekolah-sekolah seperti berlomba-lomba menjadi sekolah inklusi yang mengklaim mampu menerima dengan tangan terbuka anak-anak ini.

Karena urusan pekerjaan, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi sekolah berlabel inklusi dan bertemu dengan sang pemilik sekaligus kepala sekolahnya. Cerita beliau banyak membuka mata saya, bahwa ada banyak konflik yang harus dihadapi oleh para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus ini. Tak perlu saya jelaskan bagaimana perilaku apa saja yang mungkin dilakukan oleh anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Mengamuk, menggigit, menendang, atau bahkan diam seribu bahasa, adalah hal yang lazim anak-anak ini lakukan. Bisa dibayangkan, bagaimana jika perilaku ini ditujukan kepada teman sekolahnya yang tidak berkebutuhan khusus? (Maaf, saya menolak menyebut anak normal, karena menurut saya anak-anak dengan autism pun adalah anak normal yang memiliki sedikit masalah pada perkembangan perilakunya!)

Itu baru dari sisi si anak. Sekarang, bayangkan dari sisi ibunya. Bagaimana perasaan si ibu yang anaknya tak sengaja ditendang atau dipukul oleh anak berkebutuhan khusus ini? Marah, sudah pasti. Kalau perlu, memarahi si pelaku, atau sekalian memarahi orang tua si pelaku. Tapi, hei… apakah dengan begitu masalahnya lantas selesai? Pernahkah Anda membaca fakta-fakta di balik autism? Ini bukan kasus anak nakal. Ini bukan kasus bullying! Ini autism, sesuatu yang tak akan bisa dipahami oleh ibu-ibu yang diberi anugerah anak-anak sehat tak kurang suatu apapun.

Saya, dengan profesi saya sebagai penulis, kemudian memberi PR kepada diri sendiri untuk memberikan sebuah pemahaman baru kepada orang awam soal anak berkebutuhan khusus ini. Beberapa artikel saya di media cetak membahas soal guidelines atau panduan bagi kita para ibu (khususnya) dalam berinteraksi dengan anak-anak atau orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satu yang paling penting menurut saya adalah: Jangan memberi label pada anak autis!

Seorang teman bercerita bahwa dia pernah berkomentar seperti ini pada teman lainnya setelah melihat perilaku anak si teman yang bicaranya sangat sedikit, dan hampir tak berelasi dengan teman-teman di sekolahnya, “Sepertinya anakmu perlu dibawa ke psikolog, deh!” Tahu apa reaksi temannya? Marah, dan tak mau lagi berhubungan dengan teman saya itu. Ya, kata-kata itu menjadi sebuah pukulan bagi orang tua anak berkebutuhan khusus, karena seolah anaknya diberi label bermasalah. Padahal, itu adalah hak seorang profesional untuk memberi diagnosa bahwa anak tersebut mengalami autism. Meski begitu, tetap saja harus dipilih kata atau kalimat positif yang tidak membuat orang tua menjadi down.   

Jangan katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Kalimat menggampangkan seperti, “Ah, ini sih cuma terlambat bicara saja. Tidak usah khawatir, dulu juga papanya umur 3 tahun lebih baru lancar bicara,” juga sebaiknya dihindari. Kalimat ini mungkin dimaksudkan untuk menghibur dan memberi harapan pada orang tua ketika menemukan anaknya ‘berbeda’ dari anak-anak lain seusianya. Tapi, bagi orang tua yang memiliki anak autism, kalimat ini akan terasa seperti penyangkalan bahwa memang benar ada yang ‘sesuatu’ pada anaknya.
Berteman dengan autism

Lalu, bagaimana jika anak kita punya teman sekelas yang autism? Adalah PR kita semua sebagai orang tua untuk mengajari anak cara berinteraksi dengan temannya yang autism.
Yang pasti, tak perlu bersusah payah menerangkan pada anak soal autism. Penjelasan tentang autism sebaiknya dilakukan secara bertahap. Misal untuk pertama kali, ajak anak nonton film yang menampilkan tokoh yang mengalami autism. Dari situ, penjelasan bisa dimulai, bahwa anak dengan autism bukanlah anak ‘bego’. Mereka punya masalah dalam hal mengontrol dirinya, makanya mereka suka jalan-jalan berkeliling, bahkan mengamuk. Dan, karena autism tidak menular, jadi jangan memandang dengan tatapan ‘berbeda’ pada mereka! Tahukah Anda, perjuangan mencari sekolah umum yang mau menerima anak autis sangatlah berat bagi orang tua. Dan beban para orang tua anak autis ini akan menjadi lebih berat lagi ketika teman-teman dan sesama orang tua lainnya tidak menerima keberadaan anaknya.

Dan yang paling penting, jangan ragu menjadi teman bagi ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Beri mereka telinga untuk mendengar segala keluhan, saran yang bermanfaat, bantuan kecil yang mungkin mereka perlukan, serta sikap yang baik pada anak mereka. Percayalah, mereka akan berterima kasih pada kita untuk itu semua. Bagaimana pun, kita sesama ibu kan… 

http://emak2blogger.com/2016/01/20/lomba-blog-4tahunkeb-dan-xl-berhadiah-lebih-dari-rp-10-juta/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar