Well… setelah
menjadi seorang Mama dari 2 anak (Alhamdulillah!), dunia saya bertambah luas.
Ilmu parenting saya semakin bertambah dari hari ke hari. Pertemanan saya pun
melebar: Orang tua teman sekolah anak, dokter dan para suster di RS langganan
anak, guru serta kepala sekolah super baik hati di sekolah pilihan anak saya,
serta ibu-ibu lain yang saya jumpai di ruang praktik dokter. Sungguh, kalau ada
yang bilang bahwa pertemanan kita semakin menciut ketika menjadi Mama, itu
semua D U S TA….
Dari sekian banyak
teman baru ini, beragam ilmu dan wawasan yang bisa saya ambil dari mereka.
Salah satu yang paling berkesan bagi saya (dan mudah-mudahan sesuai dengan tema
lomba #4Tahun KEB ini) datang dari orang tua teman TK anak saya, yang ternyata
si orang tua itu adalah sahabatnya teman saya di kantor (duh.., panjang ya).
Intinya, teman TK anak saya ini memiliki kebutuhan khusus. Orang awam
menyebutnya sebagai anak autis. Tapi menurut sang ibu, anaknya mengalami salah
satu spektrum autisme yang nama ilmiahnya saya lupa, dengan gejala tak mampu
berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Contohnya nih, kalau anaknya disuruh
ambil pisang ke dapur oleh ibunya, ia akan beranjak dan berjalan ke dapur. Tapi
baru beberapa langkah, ia malah menuju ke kamar dan mengambil sisir.
Tidak,,,, saya
tidak apriori terhadap si ibu dan anak. Meski kadang dalam pentas seni anak ini
kerap ‘membangkang’ atau ‘membelot’ dengan bergaya beda di atas panggung, saya
tetap menganggapnya bahwa anak itu baik-baik saja. Tapi, saya mulai memberi
perhatian lebih pada cerita si ibu ini ketika mendapat kabar dari teman kantor
saya (yang adalah sahabat si ibu ini sejak SMA), bahwa si anak ternyata
mendapat diskriminasi di tempat lesnya. Si anak menjadi satu-satunya anak yang
tidak diikutsertakan dalam lomba oleh tempat lesnya. Alasannya? Absurd, yang
pasti!
Sejak itu, entah
kenapa, label anak berkebutuhan khusus mulai sering terdengar oleh saya (atau
terbaca!). Sepertinya, sedang ada semacam tren anak-anak mengalami gangguan
perilaku yang kemudian dengan mudahnya ‘dicap’ sebagai anak autis. Dan,
sekolah-sekolah seperti berlomba-lomba menjadi sekolah inklusi yang mengklaim
mampu menerima dengan tangan terbuka anak-anak ini.
Karena urusan pekerjaan,
suatu hari saya berkesempatan mengunjungi sekolah berlabel inklusi dan bertemu
dengan sang pemilik sekaligus kepala sekolahnya. Cerita beliau banyak membuka
mata saya, bahwa ada banyak konflik yang harus dihadapi oleh para orang tua
dengan anak berkebutuhan khusus ini. Tak perlu saya jelaskan bagaimana perilaku
apa saja yang mungkin dilakukan oleh anak-anak dengan kebutuhan khusus ini.
Mengamuk, menggigit, menendang, atau bahkan diam seribu bahasa, adalah hal yang
lazim anak-anak ini lakukan. Bisa dibayangkan, bagaimana jika perilaku ini
ditujukan kepada teman sekolahnya yang tidak berkebutuhan khusus? (Maaf, saya
menolak menyebut anak normal, karena menurut saya anak-anak dengan autism pun
adalah anak normal yang memiliki sedikit masalah pada perkembangan
perilakunya!)
Itu baru dari sisi
si anak. Sekarang, bayangkan dari sisi ibunya. Bagaimana perasaan si ibu yang
anaknya tak sengaja ditendang atau dipukul oleh anak berkebutuhan khusus ini?
Marah, sudah pasti. Kalau perlu, memarahi si pelaku, atau sekalian memarahi
orang tua si pelaku. Tapi, hei… apakah dengan begitu masalahnya lantas selesai?
Pernahkah Anda membaca fakta-fakta di balik autism? Ini bukan kasus anak nakal.
Ini bukan kasus bullying! Ini autism, sesuatu yang tak akan bisa dipahami oleh ibu-ibu
yang diberi anugerah anak-anak sehat tak kurang suatu apapun.
Saya, dengan
profesi saya sebagai penulis, kemudian memberi PR kepada diri sendiri untuk
memberikan sebuah pemahaman baru kepada orang awam soal anak berkebutuhan
khusus ini. Beberapa artikel saya di media cetak membahas soal guidelines atau
panduan bagi kita para ibu (khususnya) dalam berinteraksi dengan anak-anak atau
orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satu yang paling
penting menurut saya adalah: Jangan memberi label
pada anak autis!
Seorang teman bercerita bahwa dia pernah
berkomentar seperti ini pada teman lainnya setelah melihat perilaku anak si
teman yang bicaranya sangat sedikit, dan hampir tak berelasi dengan teman-teman
di sekolahnya, “Sepertinya anakmu perlu dibawa ke psikolog, deh!” Tahu apa
reaksi temannya? Marah, dan tak mau lagi berhubungan dengan teman saya itu. Ya,
kata-kata itu menjadi sebuah pukulan bagi orang tua anak berkebutuhan khusus,
karena seolah anaknya diberi label bermasalah. Padahal, itu adalah hak seorang
profesional untuk memberi diagnosa bahwa anak tersebut mengalami autism. Meski
begitu, tetap saja harus dipilih kata atau kalimat positif yang tidak membuat
orang tua menjadi down.
Jangan
katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Kalimat menggampangkan seperti, “Ah,
ini sih cuma terlambat bicara saja. Tidak usah khawatir, dulu juga papanya umur
3 tahun lebih baru lancar bicara,” juga sebaiknya dihindari. Kalimat ini
mungkin dimaksudkan untuk menghibur dan memberi harapan pada orang tua ketika
menemukan anaknya ‘berbeda’ dari anak-anak lain seusianya. Tapi, bagi orang tua
yang memiliki anak autism, kalimat ini akan terasa seperti penyangkalan bahwa
memang benar ada yang ‘sesuatu’ pada anaknya.
![]() |
| Berteman dengan autism |
Lalu, bagaimana jika anak kita punya teman
sekelas yang autism? Adalah PR kita semua sebagai orang tua untuk mengajari anak cara berinteraksi dengan
temannya yang autism.
Yang pasti, tak perlu
bersusah payah menerangkan pada anak soal autism. Penjelasan tentang autism
sebaiknya dilakukan secara bertahap. Misal untuk pertama kali, ajak anak nonton
film yang menampilkan tokoh yang mengalami autism. Dari situ, penjelasan bisa
dimulai, bahwa anak dengan autism bukanlah anak ‘bego’. Mereka punya masalah
dalam hal mengontrol dirinya, makanya mereka suka jalan-jalan berkeliling,
bahkan mengamuk. Dan, karena autism
tidak menular, jadi jangan memandang dengan tatapan ‘berbeda’ pada mereka! Tahukah
Anda, perjuangan mencari sekolah umum yang mau menerima anak autis sangatlah
berat bagi orang tua. Dan beban para orang tua anak autis ini akan menjadi
lebih berat lagi ketika teman-teman dan sesama orang tua lainnya tidak menerima
keberadaan anaknya.
Dan yang paling
penting, jangan ragu menjadi teman bagi ibu yang memiliki anak berkebutuhan
khusus. Beri mereka telinga untuk mendengar segala keluhan, saran yang
bermanfaat, bantuan kecil yang mungkin mereka perlukan, serta sikap yang baik
pada anak mereka. Percayalah, mereka akan berterima kasih pada kita untuk itu
semua. Bagaimana pun, kita sesama ibu kan…
![]() |
| http://emak2blogger.com/2016/01/20/lomba-blog-4tahunkeb-dan-xl-berhadiah-lebih-dari-rp-10-juta/ |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar