![]() |
| Yang paling mainstream, lomba Kartini-an :) |
Dengan niat memperkaya pengalaman anak, banyak para mama rajin mengikutsertakan anaknya berbagai lomba? Sebut saja, mulai dari lomba foto (ini yang paling banyak...), fashion show, lomba tari, nyanyi, dan lomba-lomba lainnya. Meski begitu, tetap selalu ada terselip niat ingin melihat anak kita berdiri di atas podium dengan piagam dan piala di tangan, ditambah tepukan tangan serta decak dan tatapan kagum dari orang lain. Hayooo... betul, kan?
Lain Tasya, lain pula Wini, mama 2 anak yang satu ini fokus hanya mengikuti lomba foto anak dan keluarga. Tampaknya, ia punya bakat sebagai seorang stylist, karena sebagian besar foto-foto yang dihasilkannya selalu keren dan catchy. Nah, untuk mendapatkan hasil foto yang super duper keren, ia bahkan tak ragu menggunakan jasa fotografer profesional. Tak sia-sia, sih, karena ia dan keluarganya berhasil jalan-jalan ke luar negeri beberapa kali secara gratis berkat menang lomba foto! Menggiurkan, ya?
Sama
seperti Tasya, Wini pun tak segan melakukan usaha ekstra agar dapat
menghasilkan foto-foto keluarga yang eye
catching untuk diperlombakan. “Untuk lomba, saya pantang mengirimkan foto
yang biasa-biasa saja. Foto harus clean
(tidak ada objek lain yang mengganggu), bertema, dan yang pasti dibuat baru
alias tidak menggunakan foto lama,” katanya. Untuk membuat foto baru itu,
tak segan Wini akan hunting properti
dan baju yang cocok dengan tema yang diminta pihak penyelenggara lomba.
Sah-sah saja, sih, melakukan upaya ekstra dengan tujuan memperbesar kesempatan si kecil untuk menang. Ini bisa sekalian jadi momen bagi anak untuk belajar bahwa ada usaha dan kerja keras di balik setiap keberhasilan. Dengan begitu, ketika ia berkesempatan menjadi pemenang, ia tak jadi jumawa dan berpikir itu karena dirinya hebat. Meski begitu, jangan salah memaknai kata “usaha” di sini, ya, Ma. Seperti yang dikatakan Tasya, ada banyak orang tua seperti dirinya yang hobi mengikutsertakan anaknya ke dalam kompetisi. “Pada intinya, semua orang tua ini ingin anaknya jadi juara. Tapi, cara yang mereka lakukan berbeda-beda. Ada yang relijius menyuruh anaknya berdoa sebelum tampil di panggung, tapi tak sedikit juga pakai nada ‘ancaman’ ke anaknya ketika akan naik ke panggung, misal ‘awas, ya, kalau nanti tidak bagus’,” ceritanya. Ironis, memang, ketika lomba yang ditujukan untuk anak-anak ini pada akhirnya menjadi ajang kompetisi terselubung bagi para orang tua.
Yang perlu Mama pahami adalah: Jadi juara dan dapat hadiah bukanlah satu-satunya keuntungan yang akan didapat oleh si kecil ketika ia berkompetisi. Masih banyak keuntungan lain yang ia dapat meski tak meraih predikat juara sekalipun. Seperti yang dikatakan Dr. Cynthia E. Johnson dari North Carolina State University, kompetisi memang akan menantang dan mendorong anak untuk menjadi unggul. Tapi hal ini tak akan menjadikannya sebagai seorang anak yang maunya menang terus. Justru, dengan sering berkompetisi, anak akan belajar apa itu menang dan kalah, serta bagaimana menghadapi situasi tersebut. Jadi, jangan ragu mengikutsertakan anak dalam lomba apapun, ya, Ma!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar