Jumat, 22 Januari 2016

Ketika Mama Nggak Laku…


"Sama Papa aja!"


Tau sih, peran Papa itu sama pentingnya dengan peran Mama dalam mengasuh anak. Tapi, ngaku deh, pasti ada terselip rasa bangga kalau anak kita lebih sering memilih kita, Mamanya, daripada Papanya. Misal, “Mau dimandiin sama Mama!”, “Aku cuma mau digendong sama Mama!”, atau “Sama Mama aja!”. Ah, serasa ada yang berdesir di dada ini rasanya, ya, Ma, kalau denger anak ngomong gitu.

Tapi…, ada lho, anak yang sedari kecil memang inginnya dekat-dekat sama Papanya. Sedikit-sedikit bilangnya, “Aku mau sama Papa…!” Yang lebih ekstrim dan mengiris hati, bahkan Mamanya sampai diacuhkan ketika si Papa ini ada di rumah. Duh, Nak…, salah apa Mama waktu mengandung kamu, sih?

Salah seorang teman bercerita kalau putrinya yang saat ini berusia 3 tahun, selalu antusias jika Papanya pulang kerja. Tanpa memberi kesempatan pada si Papa untuk berganti pakaian ―bahkan mandi ― si anak akan menghampiri Papa dan memamerkan hasil karyanya di sekolah hari itu. Kemudian, ia juga akan memonopoli Papa sampai malam untuk menemaninya nonton film kesukaannya di televisi kabel. Teman saya, sih, sebenarnya malah senang dengan situasi ini. Soalnya, dia justru jadi punya waktu luang untuk ‘sendirian’ setelah dari pagi sampai sore nemenin anaknya. Iya, teman saya ini adalah ibu rumah tangga yang waktunya memang 24 jam untuk anaknya. Tau dong, senangnya ibu rumah tangga bisa dapat sedikiiitt waktu bebas…

Tapi teman saya yang lain malah kebalikannya. Dia sediihh banget kalau dicuekin sama anaknya. Sedih, karena teman yang satu ini adalah ibu bekerja yang cuma punya waktu 4 – 5 jam sehari sama anaknya. Masa waktu yang segitu doang aja dia nggak bisa deket-deket sama anaknya, sih? Yaah.. setiap Mama memang punya problem masing-masing, sih. Tapi, saya punya penjelasan yang agak ilmiah soal sindrom “anak papa” ini.

Papa lebih seru?
Konon, dalam teori psikoanalisis klasik yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, kedekatan anak kepada orang tuanya sudah mulai dilakukan ketika anak berusia 4 sampai 5 tahun. Teorinya, sih, anak akan mengembangkan ketertarikan yang kuat atau rasa ingin dekat dengan orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Jadi, anak perempuan dengan Papa, sedangkan anak laki-laki dengan Mamanya (bener, nggak, tuh?).

Nah, anak pun punya trik supaya ia dicintai oleh orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Salah satunya, ia akan melakukan identifikasi. Jadi, anak laki-laki akan berusaha terlihat sama seperti Papanya agar ia dicintai Mama. Sebaliknya, anak perempuan akan berusaha sama seperti Mama untuk mendapatkan cinta Papa. Dari sinilah anak akan mengembangkan self identification, dimana ia akan mencontek sikap bicara hingga kesukaan salah satu orang tua dengan tujuan untuk mendapatkan cinta orang tua lainnya. Makanya, perhatikan, deh, anak perempuan itu suka banget, kan, mainin bedak atau lipstik Mamanya atau pakai sepatu Mama?

Jadi, kita sebenarnya tidak perlu iri, sih. Berdasarkan teori Freud di atas, bisa jadi kita sebenarnya juga diidolakan oleh anak laki-laki kita sebagaimana anak perempuan kita mengidolakan Papanya. Adil, kan?

Tapi, gimana kalau pada kenyataannya, anak laki-laki kita juga terkena sindrom ‘sayang Papa’? Hmm, kalau itu, sih, menurut saya, adalah sebuah kewajaran. Coba deh, pikir, anak laki-laki kalau sama Papanya, ngapain aja, sih? Pasti main bola, main gulat-gulatan, kuda-kudaan atau koboi-koboian, atau main mobil-mobilan. Iya, kan? Nah, apakah kita sebagai Mama pernah mau diajak main seperti itu sama anak laki-laki kita? Kalaupun ada Mama yang menjawab mau, pasti jarang. Karena kita sudah kadung menganggap itu semua adalah aktivitas laki-laki.

Daann… terkait dengan gender atau jenis kelamin, ngaku saja, deh, pada kenyataannya Papa memang ‘lebih seru’ dibanding Mama. Lihat aja, siapa yang berani menggendong anak sambil kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi? Papa! Siapa yang paling sering mengabulkan permintaan anak akan permen, cokelat, atau es krim? Papa! Dan, siapa yang paling sering membujuk dengan kata-kata lembut ketika anak habis ‘dimarahi’ Mama? Lagi-lagi, Papa! Makanya, nggak heran, kan, kalau Papa memang sering jadi idola anak?

Sudah, jangan sedih lagi, Ma. Terima saja kenyataan kalau memang anak lebih dekat dan lebih senang bersama Papanya ketimbang Mama. Yang lebih penting, tetap tunjukkan pada anak kalau kita pun mencintainya, sama seperti Papa menyayanginya (meskipun kita nggak seseru Papa… huhuhu!). Anak-anak akan mengerti dan merasa, kok, kalau ia pun dicintai oleh Mamanya. Atau, mau coba jadi orang tua yang tak kalah seru dari Papa? Bisa….! Coba aja lakukan beberapa hal berikut agar kita juga jadi Mama favorit:

·   Kalau kita nggak bisa menjadi lawannya dalam pertandingan gulat, ya ganti aja dengan aktivitas lain. Misalnya, mengajak anak bikin kue di dapur, atau belanja ke supermarket. Traktir anak cokelat atau permen kesukaannya, pasti dia seneng banget!

·   Ketika anak bertanding sepak bola dengan Papa, kita bisa jadi suporter mereka. Memberi semangat pada mereka dari pinggir lapangan juga tak kalah seru, lho. Kemudian, siapkan hadiah spesial untuk yang menang, dan hadiah ‘hiburan’ yang tak kalah spesial untuk pihak yang kalah.

·   Dampingi Papa dan anak apapun yang mereka lakukan berdua, dan pastikan kita berada di samping mereka. Kita bisa ikut bermain bersama, atau sekadar menyiapkan makanan dan minuman kecil untuk mereka. Sekecil apapun partisipasi kita, anak pasti akan menyadari keberadaan Mamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar