![]() |
| "Sama Papa aja!" |
Tapi…,
ada lho, anak yang sedari kecil memang inginnya dekat-dekat sama Papanya.
Sedikit-sedikit bilangnya, “Aku mau sama Papa…!” Yang lebih ekstrim dan
mengiris hati, bahkan Mamanya sampai diacuhkan ketika si Papa ini ada di rumah.
Duh, Nak…, salah apa Mama waktu mengandung kamu, sih?
Salah
seorang teman bercerita kalau putrinya yang saat ini berusia 3 tahun, selalu antusias
jika Papanya pulang kerja. Tanpa memberi kesempatan pada si Papa untuk berganti
pakaian ―bahkan mandi ― si anak akan menghampiri Papa dan memamerkan hasil karyanya
di sekolah hari itu. Kemudian, ia juga akan memonopoli Papa sampai malam untuk
menemaninya nonton film kesukaannya di televisi kabel. Teman saya, sih,
sebenarnya malah senang dengan situasi ini. Soalnya, dia justru jadi punya
waktu luang untuk ‘sendirian’ setelah dari pagi sampai sore nemenin anaknya.
Iya, teman saya ini adalah ibu rumah tangga yang waktunya memang 24 jam untuk
anaknya. Tau dong, senangnya ibu rumah tangga bisa dapat sedikiiitt waktu bebas…
Tapi
teman saya yang lain malah kebalikannya. Dia sediihh banget kalau dicuekin sama
anaknya. Sedih, karena teman yang satu ini adalah ibu bekerja yang cuma punya
waktu 4 – 5 jam sehari sama anaknya. Masa waktu yang segitu doang aja dia nggak
bisa deket-deket sama anaknya, sih? Yaah.. setiap Mama memang punya problem
masing-masing, sih. Tapi, saya punya penjelasan yang agak ilmiah soal sindrom “anak
papa” ini.
Papa lebih seru?
Konon, dalam teori psikoanalisis
klasik yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, kedekatan anak kepada orang tuanya
sudah mulai dilakukan ketika anak berusia 4 sampai 5 tahun. Teorinya, sih, anak
akan mengembangkan ketertarikan yang kuat atau rasa ingin dekat dengan orang tua
yang berbeda jenis kelamin dengannya. Jadi, anak perempuan dengan Papa,
sedangkan anak laki-laki dengan Mamanya (bener, nggak, tuh?).
Nah, anak pun punya trik supaya ia dicintai
oleh orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Salah satunya, ia akan
melakukan identifikasi. Jadi, anak laki-laki akan berusaha terlihat sama
seperti Papanya agar ia dicintai Mama. Sebaliknya, anak perempuan akan berusaha
sama seperti Mama untuk mendapatkan cinta Papa. Dari sinilah anak akan
mengembangkan self identification, dimana
ia akan mencontek sikap bicara hingga kesukaan salah satu orang tua dengan
tujuan untuk mendapatkan cinta orang tua lainnya. Makanya, perhatikan, deh,
anak perempuan itu suka banget, kan, mainin bedak atau lipstik Mamanya atau pakai
sepatu Mama?
Jadi,
kita sebenarnya tidak perlu iri, sih. Berdasarkan teori Freud di atas, bisa
jadi kita sebenarnya juga diidolakan oleh anak laki-laki kita sebagaimana anak
perempuan kita mengidolakan Papanya. Adil, kan?
Tapi,
gimana kalau pada kenyataannya, anak laki-laki kita juga terkena sindrom ‘sayang
Papa’? Hmm, kalau itu, sih, menurut saya, adalah sebuah kewajaran. Coba deh, pikir,
anak laki-laki kalau sama Papanya, ngapain aja, sih? Pasti main bola, main
gulat-gulatan, kuda-kudaan atau koboi-koboian, atau main mobil-mobilan. Iya,
kan? Nah, apakah kita sebagai Mama pernah mau diajak main seperti itu sama anak
laki-laki kita? Kalaupun ada Mama yang menjawab mau, pasti jarang. Karena kita
sudah kadung menganggap itu semua adalah aktivitas laki-laki.
Daann…
terkait dengan gender atau jenis kelamin, ngaku saja, deh, pada kenyataannya Papa
memang ‘lebih seru’ dibanding Mama. Lihat aja, siapa yang berani menggendong anak
sambil kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi? Papa! Siapa yang paling sering
mengabulkan permintaan anak akan permen, cokelat, atau es krim? Papa! Dan,
siapa yang paling sering membujuk dengan kata-kata lembut ketika anak habis ‘dimarahi’
Mama? Lagi-lagi, Papa! Makanya, nggak heran, kan, kalau Papa memang sering jadi
idola anak?
Sudah,
jangan sedih lagi, Ma. Terima saja kenyataan kalau memang anak lebih dekat dan
lebih senang bersama Papanya ketimbang Mama. Yang lebih penting, tetap
tunjukkan pada anak kalau kita pun mencintainya, sama seperti Papa
menyayanginya (meskipun kita nggak seseru Papa… huhuhu!). Anak-anak akan mengerti
dan merasa, kok, kalau ia pun dicintai oleh Mamanya. Atau, mau coba jadi orang
tua yang tak kalah seru dari Papa? Bisa….! Coba aja lakukan beberapa hal
berikut agar kita juga jadi Mama favorit:
·
Kalau
kita nggak bisa menjadi lawannya dalam pertandingan gulat, ya ganti aja dengan
aktivitas lain. Misalnya, mengajak anak bikin kue di dapur, atau belanja ke
supermarket. Traktir anak cokelat atau permen kesukaannya, pasti dia seneng
banget!
·
Ketika
anak bertanding sepak bola dengan Papa, kita bisa jadi suporter mereka. Memberi
semangat pada mereka dari pinggir lapangan juga tak kalah seru, lho. Kemudian,
siapkan hadiah spesial untuk yang menang, dan hadiah ‘hiburan’ yang tak kalah
spesial untuk pihak yang kalah.
·
Dampingi
Papa dan anak apapun yang mereka lakukan berdua, dan pastikan kita berada di
samping mereka. Kita bisa ikut bermain bersama, atau sekadar menyiapkan makanan
dan minuman kecil untuk mereka. Sekecil apapun partisipasi kita, anak pasti
akan menyadari keberadaan Mamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar