Selasa, 09 Februari 2016

Resort World Sentosa, One Stop Holiday Destination





Alhamdulillah... rezeki di akhir tahun lalu, saya dapat undangan dari Singapore Tourism Board untuk menjelajah tempat-tempat wisata populer di Singapura selama 4 hari. Jujur saja, saya belum pernah jalan-jalan ke tempat wisata Singapura sebelumnya. Dulu, sekalinya ke sana, cuma untuk meliput fasilitas kesehatan terkini di sebuah rumah sakit beken di sana.  

Inilah kesan pertama saya ketika tiba di Singapura: Sebuah kota metropolis besar dengan lalu lintas bebas hambatan yang mengalir lancar, dan di kanan-kirinya menjulang gedung-gedung pencakar langit ‘dipagari’ taman-taman kota berwarna hijau tertata rapi. Sesekali, tampak adanya aktivitas pemugaran, pembangunan, atau pemeliharaan sanitasi lingkungan di beberapa titik. Sangat modern dan teratur, itulah gambaran Singapura yang luas seluruh negaranya bahkan tak lebih luas dibandingkan Jakarta. 

Bagi sebagian besar orang Indonesia, Singapura bukan negara asing. Kedekatan lokasi, kemiripan budaya, ditambah dengan banyaknya promo tiket pesawat murah, menjadikan negara ini begitu mudah diakses. Jujur, saya sama sekali tidak merasa sedang berada di luar negeri ketika berada di sini, karena saya banyak mendengar bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dimana-mana. Kalau tak lancar berbahasa Inggris, tak perlu ragu menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan pelayan restoran, petugas di toko, bahkan orang lewat sekalipun. Hampir dipastikan, sebagian besar dari mereka akan mengerti. 

Nah, salah satu tempat wisata wajib kunjung di sini adalah Universal Studio, theme park yang jadi favorit hampir semua wisatawan di Singapura. Saya, tak hanya berkesempatan main di sini secara gratis, tapi juga menjelajah seluruh tempat wisata yang ada di Resort World Sentosa (RWS). Iya, RWS ini adalah sebuah pulau yang bisa dikatakan sebagai one stop holiday destination. Di sini ada banyak sekali tempat hiburan, hotel, restoran, toko, pertunjukan, bahkan kasino. Tinggal pilih, mau menyambangi yang mana. Favorit saya: Candylicious. Segala rupa permen dan cokelat ada di sini. Bikin ngiler dan ingin memborong semuanya. Sayang, kurs Dollar Singapura terhadap Rupiah membatasi keinginan ini hahaha...

Siap-siap kalap di sini...

Inilah 4 tempat wisata di RWS yang sempat saya kunjungi:

1.   S.E.A Aquarium
S.E.A Aquarium pernah menjadi akuarium terbesar di dunia sebelum akhirnya tahun lalu dikalahkan oleh Dubai Aquarium & Underwater Zoo. Selain memiliki lebih dari 800 spesies hewan laut, di antaranya ikan pari manta raksasa, kerapu goliath, dan napoleon wrasse, di sini juga ada The Maritim Experiential Museum yang terletak tepat setelah pintu masuk. Kita seolah-olah ‘menelusuri’ Jalur Sutra Maritim kuno, jalur perdagangan di Asia yang zaman dahulu dilewati oleh para pedagang, pengelana, dan prajurit. Di museum ini saya juga melihat juga replika kapal layar Asia dari dermaga Historic Ship Harbour dalam ukuran sebenarnya. 

Replika kapal yang digunakan pedagang zaman dahulu menelusuri jalur sutera.

Sebelum memasuki area akuarium, sempatkan diri menonton di Typhoon Theatre multimedia 360 derajat, yang mengajak pengunjung berlayar 'menaiki' sebuah kapal layar dan menghadapi badai berbahaya. ‘Lolos’ dari badai, barulah pengunjung digiring masuk ke dalam akuarium. Selain lorong akuarium raksasa Shark Seas yang terkenal itu, spot favorit saya adalah Open Ocean. Di sini, pengunjung bisa berada sangat dekat dengan ikan sambil duduk santai di atas karpet tebal yang nyaman. 

Lorong akuarium raksasa yang terkenal itu...

Tiket masuk
Anak 4 – 12 tahun: SGD28
Dewasa: SGD38

2.   Dolphin Island
Jika Anda dan si kecil ingin berinteraksi secara unik dan mengenal lebih dekat mamalia laut yang baik hati, di sinilah tempatnya. Ada beberapa paket yang bisa dipilih, yaitu Dolphin Encounter, berinteraksi dengan lumba-lumba tanpa harus masuk ke dalam air; Dolphin Discovery, berinteraksi dengan lumba-lumba dengan cara masuk ke dalam kolam hingga setinggi pinggang; serta Dolphin Adventure, bermain dan berenang bersama para lumba-lumba. Jangan khawatir, Anda dan keluarga akan didampingi oleh para pemandu yang terlatih dan super ramah.
Bermain-main dengan lumba-lumba...
Tiket masuk
Dolphin Encounter: SGD58 (anak 4 – 12 tahun), SGD68 (dewasa)
Dolphin Discovery: SGD88 (anak 4 – 12 tahun), SGD98 (dewasa)
Dolphin Adventure: SGD118 (anak 4 – 12 tahun), SGD128 (dewasa)

3.   Wings of Time
Pertunjukan yang baru ada sejak Juli tahun 2014 lalu ini hanya bisa dinikmati di malam hari, pukul 19.40 dan 20.40. Karena ini merupakan atraksi permainan sinar laser, air mancur, dan video mapping 3 dimensi yang diiringi cerita dan musik yang keren, yang memang hanya bakal terlihat cantik jika ditonton di malam hari ketika langit sudah gelap. Bercerita tentang perjalanan Shahbaz, burung prasejarah mistis, bersama kedua temannya, Rachel dan Felix, menelusuri waktu dan menemukan sebuah tanah baru yang cantik. Di awal cerita, penonton akan diajarkan menyanyi lagu theme Wings of Time, yang nantinya di akhir cerita akan dinyanyikan bersama-sama. Recomended banget, nih...meski sekarang katanya sudah ada saingannya di Purwakarta...
Salah satu adegan dalam Wings of Time...

Tiket
Premium seat: SGD23
Standard seat untuk turis: SGD18
Standard seat untuk lokal: SGD15

4.   Universal Studio Singapore (USS)
Rasanya, siapa pun yang pernah ke Singapura, pernah bermain di sini. Inilah theme park dimana Anda bisa menikmati wahana, pertunjukan, dan atraksi modern yang terinspirasi dari film dan serial televisi blockbuster favorit, seperti Transformer The Ride: The Ultimate 3D Battle, Shrek 4-D Adventure, Madagascar: A Crate Adventure, Jurassic Park Rapids Adventure, dan yang agak baru yaitu Puss In Boots’ Giant Journey, berupa roller coaster gantung di sebuah bangunan reruntuhan kastil yang terlilit batang pohon kacang raksasa. 
Banyak banget toko-toko suvenir kaya gini...
Peringatan aja, nih, buat ibu-ibu yang ke sini. Kalau nggak kuat iman, kantong bisa jebol di sini. Bukan, bukan karena harga tiketnya yang hampir 3 kali lipat harga tiket masuk Dufan, Ancol. Tapi karena banyak banget toko souvenir lucu yang bikin kita kepingin membelikannya buat anak. Lihat ke toko ini, "Aduh, si sulung pasti seneng banget kalau dibeliin tas Transformer ini!" Kemudian ke toko lain lagi, "Ihhh, si bungsu kan lagi seneng sama Elmo. Beli, ah!" Pusingggg....
Parah... semuanya menggoda iman.
 
Tiket:
Dewasa: SGD74
Anak (4 – 12 tahun): SGD54
Senior (>60 tahun): SGD36

Kamis, 04 Februari 2016

Usaha Keras Para Ibu Ketika Anak-Anaknya Ikut Lomba



 
Yang paling mainstream, lomba Kartini-an :)


Dengan niat memperkaya pengalaman anak, banyak para mama rajin mengikutsertakan anaknya berbagai lomba? Sebut saja, mulai dari lomba foto (ini yang paling banyak...), fashion show, lomba tari, nyanyi, dan lomba-lomba lainnya. Meski begitu, tetap selalu ada terselip niat ingin melihat anak kita berdiri di atas podium dengan piagam dan piala di tangan, ditambah tepukan tangan serta decak dan tatapan kagum dari orang lain. Hayooo... betul, kan? 

Coba saja disimak kisah Tasya, mama 2 anak, yang berdomisili di Tangerang. Tasya ini termasuk salah satu mama yang giat mengikutsertakan anak sulungnya ke berbagai ajang lomba. Mulai dari lomba merangkak ketika anaknya masih bayi, lomba foto, fashion show, kostum, hingga talent show. Hasilnya cukup membanggakan, anaknya lumayan sering memenangkan lomba. Bangga? Sudah pasti. Yang pasti, Tasya senang anaknya eksis di berbagai lomba. Kalaupun menang, itu ia anggap sebagai bonus. "Meski rasanya memang sangat membanggakan,” kata Tasya. Bagaimana dengan hadiah? Nggak bohong, kalau hadiah juga jadi salah satu faktor pertimbangan. Kalau hadiahnya keren dan fantastis, Tasya jadi dobel semangat mempersiapkan anaknya untuk lomba. Seperti waktu lomba kostum Hallowen yang diadakan oleh salah satu toko mainan. Hadiahnya voucer jutaan rupiah untuk membeli mainan. Untuk mama 2 balita seperti Tasya, itu sangat menggiurkan, lho.
  
Lain Tasya, lain pula Wini, mama 2 anak yang satu ini fokus hanya mengikuti lomba foto anak dan keluarga. Tampaknya, ia punya bakat sebagai seorang stylist, karena sebagian besar foto-foto yang dihasilkannya selalu keren dan catchy. Nah, untuk mendapatkan hasil foto yang super duper keren, ia bahkan tak ragu menggunakan jasa fotografer profesional. Tak sia-sia, sih, karena ia dan keluarganya berhasil jalan-jalan ke luar negeri beberapa kali secara gratis berkat menang lomba foto! Menggiurkan, ya?

Meski menggiurkan, apa yang diperoleh Tasya dan Wini bukannya tanpa usaha sama sekali. Ketika mengikutsertakan anaknya ke kontes model foto anak untuk sebuah merek pakaian, misalnya, beberapa hari sebelum hari pemotretan, Tasya membawa anak laki-lakinya ini ke salon untuk potong rambut. Ia bahkan berkonsultasi pada hair stylist di sana mengenai  model rambut terkini yang paling cocok untuk anaknya itu. Tak hanya itu, ia juga membuka-buka majalah dan internet untuk mencari referensi gaya foto para model anak-anak yang menurutnya sesuai dengan gaya merek pakaian tersebut. Berhari-hari ia melatih anaknya berpose dengan berbagai gaya, mengulangnya, sampai hasil foto benar-benar terlihat ‘keren’ namun natural.
 
Sama seperti Tasya, Wini pun tak segan melakukan usaha ekstra agar dapat menghasilkan foto-foto keluarga yang eye catching untuk diperlombakan. “Untuk lomba, saya pantang mengirimkan foto yang biasa-biasa saja. Foto harus clean (tidak ada objek lain yang mengganggu), bertema, dan yang pasti dibuat baru alias tidak menggunakan foto lama,” katanya. Untuk membuat foto baru itu, tak segan Wini akan hunting properti dan baju yang cocok dengan tema yang diminta pihak penyelenggara lomba.  

Sah-sah saja, sih, melakukan upaya ekstra dengan tujuan memperbesar kesempatan si kecil untuk menang. Ini bisa sekalian jadi momen bagi anak untuk belajar bahwa ada usaha dan kerja keras di balik setiap keberhasilan. Dengan begitu, ketika ia berkesempatan menjadi pemenang, ia tak jadi jumawa dan berpikir itu karena dirinya hebat. Meski begitu, jangan salah memaknai kata “usaha” di sini, ya, Ma. Seperti yang dikatakan Tasya, ada banyak orang tua seperti dirinya yang hobi mengikutsertakan anaknya ke dalam kompetisi. “Pada intinya, semua orang tua ini ingin anaknya jadi juara. Tapi, cara yang mereka lakukan berbeda-beda. Ada yang relijius menyuruh anaknya berdoa sebelum tampil di panggung, tapi tak sedikit juga pakai nada ‘ancaman’ ke anaknya ketika akan naik ke panggung, misal ‘awas, ya, kalau nanti tidak bagus’,” ceritanya. Ironis, memang, ketika lomba yang ditujukan untuk anak-anak ini pada akhirnya menjadi ajang kompetisi terselubung bagi para orang tua. 

Yang perlu Mama pahami adalah: Jadi juara dan dapat hadiah bukanlah satu-satunya keuntungan yang akan didapat oleh si kecil ketika ia berkompetisi. Masih banyak keuntungan lain yang ia dapat meski tak meraih predikat juara sekalipun. Seperti yang dikatakan Dr. Cynthia E. Johnson dari North Carolina State University, kompetisi memang akan menantang dan mendorong anak untuk menjadi unggul. Tapi hal ini tak akan menjadikannya sebagai seorang anak yang maunya menang terus. Justru, dengan sering berkompetisi, anak akan belajar apa itu menang dan kalah, serta bagaimana menghadapi situasi tersebut. Jadi, jangan ragu mengikutsertakan anak dalam lomba apapun, ya, Ma!